Suku Sakai
A. Asal Usul
Menurut cerita lama, diceritakan bahwa kata “Sakai” adalah kepanjangan dari Sungai, Kampung, Anak, dan Ikan. Nama Sakai sebenarnya memiliki arti “anak-anak yang hidup di sekitar sungai”. Arti nama Sakai mengacu pada pola kehidupan suku Sakai yang sering suka berpindah-pindah atau nomaden walaupun masih tetap di wilayah Kepulauan Riau.
Suku Sakai selalu menempati lokasi yang dekat dengan aliran sungai, karena air memang menjadi sumber kehidupan utama bagi manusia.
Mengenai asal usul dari Orang Sakai, beberapa ahli menyebutkan bahwa orang-orang Sakai berasal dari Pagaruyung. Pagaruyung adalah sebuah kerajaan Melayu yang pernah ada di daerah Sumatera Barat dan didirikan oleh Adityawarman.
Selain itu, beberapa ahli juga menyebutkan jika Suku Sakai merupakan percampuran antara orang Weddoid dan orang Minangkabau yang telah bermigrasi sejak abad ke-14 lalu.
Ras Weddoid diketahui berasal dari Hindia bagian selatan dengan ciri fisik berkulit hitam dan berambut keriting. Tubuhnya cenderung berukuran sedang. Lain halnya dengan suku Minangkabau yang merupakan suku asli dari Sumatera Barat. Suku tersebut dikenal dengan adat matrilineal dan menonjol dalam bidang pendidikan dan perdagangan. Oleh karena percampuran tersebut, orang-orang dari suku Sakai memiliki ciri-ciri fisik yang lebih didominasi dengan warna kulit cokelat dan cenderung agak gelap serta bentuk rambut yang berombak.
B. Kehidupan Suku Sakai
Suku Sakai merupakan salah satu suku terasing yang ada di Indonesia. Suku Sakai diketahui hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Kepulauan Riau. Mereka hidup di daerah pedalaman dan sangat menggantungkan hidupnya pada alam. Ketergantungannya pada alam tersebut membuat suku Sakai menjadi suku yang masih hidup secara tradisional. Bahkan kehidupannya terkesan jauh dari peradaban dan perkembangan zaman.
Pemimpin dalam pemukiman tersebut biasanya merupakan seorang tokoh senior yang disebut dengan istilah batin. Dalam mengambil suatu keputusan mereka biasanya mengadakan suatu musyawarah untuk mencapai mufakat.
Kelompok sosial suku Sakai terbagi menjadi Perbatinan Lima (Batin nan Limo) dan Perbatinan Delapan (Batin nan Salapan).
Perbatinan dibedakan dari ciri-ciri tanah yang dimiliki masing-masing perbatinan. Tanah yang dimiliki Batin Salapan ditandai dengan kayu kapur dan sialang. Sementara Batin nan Limo ditandai dengan gundukan tanah.
- Perbatinan Lima berasal dari 5 keluarga yang sebelumnya tinggal di desa Mandau meminta ke kepala desa Mandau untuk diberikan tanah karena tidak bisa kembali lagi ke kerajaan Pagaruyung ataupun ke Kunto Bessalam. Oleh kepala desa diberikan hak ulayat pada beberapa daerah yang nantinya menjadi cikal bakal daerah Perbatinan Lima.
- Perbatinan Delapan berasal dari rombongan dari Pagaruyung yang dipimpin oleh Batin Sangkar yang memecah rombongan menjadi delapan. Masing-masing rombongan membuka hutan untuk dijadikan tempat pemukiman.
Kehidupan suku Sakai yang suka berpindah-pindah tempat tentu meninggalkan suatu kebudayaan yang cukup menarik di tempat-tempat yang pernah ditinggalinya. Hal tersebut bisa dilihat dari adanya benda peninggalan kebudayaan Sakai yang biasa digunakan untuk membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka di daerah pedalaman.
Suku Sakai sangat menghormati hutan adat mereka. Kawasan yang mereka sebut ulayat tersebut memiliki peraturan tertentu yang tak boleh dilanggar, salah satunya adalah larangan penebangan pohon.
Jika melanggar peraturan tersebut masyarakat Suku Sakai akan dikenakan denda uang yang jumlahnya setara dengan emas dalam ukuran tertentu, yang telah ditentukan dalam rapat adat. Denda tersebut biasanya disesuaikan dengan usia pohon yang ditebang.
Pohon yang sudah berumur akan memiliki nilai denda yang semakin tinggi. Larangan tersebut juga diberlakukan bagi orang dari luar suku Sakai. Mereka yang melanggar peraturan bisa diusir dari kawasan hingga dibunuh.
Suku Sakai juga beberapa macam tradisi atau adat istiadat. Masyarakat Sakai mengadakan ritual atau upacara tersendiri untuk kelahiran dan kematian serta untuk pernikahan.
C. Persebaran Suku Sakai
Suku Sakai umumnya bermukim pada beberapa lokasi, seperti di daerah Kandis, Balai Pungut, Kota Kapur, Minas, Duri, sekitar Sungai Siak, dan bagian hulu dari Sungai Apit. Mereka tinggal di pondok sederhana yang mudah dibongkar, sehingga dapat dengan mudah berpindah-pindah tempat sewaktu-waktu (nomaden). Pondok atau rumah tersebut dihuni oleh beberapa keluarga inti dengan seorang pemimpin.
D. Kepercayaan Suku Sakai
Masyarakat suku Sakai banyak yang beragama Islam. Namun diantara mereka masih ada yang menganut kepercayaan animisme, yakni kepercayaan terhadap kekuatan magis dan makhluk halus. Mereka menyebut makhluk gaib atau halus tersebut sebagai Antu.
Masyarakat Sakai percaya jika Antu mempunyai kehidupan seperti manusia. Jadi para Antu dipercaya juga hidup berkelompok dan punya pemukiman sendiri. Menurut kepercayaan mereka, pusat pemukiman Antu berada di tengah rimba hutan belantara yang tak dijamah manusia.
Posting Komentar untuk "Suku Sakai"